Rabu, 11 Maret 2015

WISATA - YOGYAKARTA 1

 WISATA - YOGYAKARTA 1

1. MALIOBORO

Asal Mula Nama Jalan Malioboro Yogyakarta yang merupakan sebuah tafsir tentang kearifan luhur atas seruas marga Sang Raja yang menautkan antara Keraton dan Merapi. Jalan Malioboro yang selama ini akrab bagi para wisatawan Yogyakarta yang tetap istimewa memang menyediakan aneka fasilitas belanja murah dan hemat selain juga yang mahal karena mutu.


www.belantaraindonesia.org

Jalan raya itu telah ditata dan digunakan untuk keperluan upacara tertentu sekitar lima puluh tahun sebelum Inggris berkuasa di Jawa,” ungkap Peter Brian Ramsey Carey, “dan kemungkinan hal itu telah dikenal sebagai 'Jalan Maliabara' sejak awalnya.

Peter B.R. Carey mengungkapkan hal tersebut dalam tulisannya Jalan Maliabara ( 'Garland Bearing Street' ): The Etymology and Historical Origins of a much Misunderstood Yogyakarta Street Name yang terbit dalam jurnal  Archipel, Volume 27, 1984. Carey merupakan Emeritus Professor di Trinity College, Oxford, Inggris. Kini, dia juga menjabat sebagai Adjunct Professor di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Perdamaian Giyanti yang ditandatangani pada 22 Rabiulakhir 1680 dalam kalender Jawa, atau 12 Februari 1755, telah membagi kekuasaan Tanah Jawa menjadi Kasusunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Pembangunan bangunan inti Keraton Kasultanan Ngayogyakarta selesai pada 7 Oktober 1756, yang kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai hari jadi Kota Yogyakarta.

www.belantaraindonesia.org
Suasana Jalan Malioboro pada 1933. Lokasi foto ini sekitar depan Hotel Garuda sekarang. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)
Bahasa Sansekerta telah berpengaruh dalam budaya dan sastra Jawa kuno. Carey menemukan sebuah petunjuk tentang asal nama Yogyakarta. Nama “Ngayogyakarta” rupanya berasal dari bahasa Sansekerta Ayodhya ( bahasa Jawa: “Ngayodya”), demikian hemat Carey.  Dari penjelasan Carey tersebut, sepertinya kita harus menghormati kearifan pendiri kota ini dengan tetap melafalkan "Yogya" meskipun nama kota ini kerap ditulis sebagai "Jogja".

Ayodhya, menurutnya, merupakan  kota dari Sang Rama, seorang  pahlawan India dalam wiracarita Ramayana. Demikian juga dengan nama Jalan “Maliabara”—atau yang biasa ditulis sebagai Malioboro—Carey berpendapat istilah itu diduga diadopsi juga dari bahasa Sansekerta “malyabhara”.

Istilah Sansekerta “malya” ( untaian bunga ), “malyakarma” ( merawat untaian bunga ), “malyabharin” (menyandang untaian bunga)  menurut Carey dapat ditemukan dalam kisah Jawa kuno. Ketiganya bisa dicari dalam kitab Ramayana abad ke-9, kitab Adiparwa dan Wirathaparwa abad ke -10, dan Parthawijaya abad ke -14. Sayangnya, ungkap Carey dalam jurnal tersebut, istilah tersebut tampaknya tidak ditemukan dalam naskah kontemporer yang berkait dengan pendirian Keraton Ngayogyakarta oleh Mangkubumi pada pertengahan abad ke -18.

www.belantaraindonesia.org
Suasana Jalan Malioboro di sebelah ujung utara. Kini, sebelah kiri adalah Jalan Abu Bakar Ali. Foto sekitar awal abad ke-20. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)
Namun, pada kenyataannya Jalan Maliabara menjadi rajamarga yang berfungsi sebagai jalan raya seremonial yang membelah jantung kota, menautkan hubungan sakral nan filosofis antara Keraton dan Gunung Merapi.

Carey mencoba menengok tradisi dalam kota India dengan jalan raya utama yang membentang dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan. “Malioboro [ Maliabara ] membentang dari Selatan ke Utara,” ungkapnya, “dan kemungkinan sebagai rajamarga atau jalan sang raja.”

Sebagai jalan raya utama atau rajamarga,  segala upacara penyambutan tamu agung sejak gubernur lenderal di zaman Hindia Belanda sampai presiden di zaman sekarang selalu melintasi jalan bersejarah tersebut.

Penjelasan Carey dalam jurnal tersebut secara arif menegaskan kembali bahwa Maliabara bukan berasal dari nama “Marlborough” yang mengacu kepada sosok orang Inggris, John Churchill, First Duke of Marlborough ( 1650 -1722 ).

www.belantaraindonesia.org
Sebuah penanda kota di Jalan Malioboro yang akrab dijuluki warga sebagai "Ngejaman" lantaran terdapat jam listrik. Foto awal abad ke-20. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)
Argumen yang pernah disampaikan beberapa pihak bahwa Keraton Yogyakarta mengganti nama jalan utama ibu kota mereka karena begitu terkesan dengan Inggris dan Letnan - Gubernur Thomas Stamford Raffles,” tulis Carey, “harus jelas ditolak sebagai alasan yang tidak masuk akal.”

Dari pemeriksaan Carey tadi, tampaknya leluhur Kota Yogyakarta telah mentahbiskan nama “Maliabara” dengan merujuk bahasa Sansekerta “malyabhara”. Mungkin kita bisa menafsirkan makna sastrawinya sebagai “seruas marga sang raja dengan semarak untaian bunga - bunga”—keindahan yang sempurna.

TUGU - YOGYAKARTA

TUGU - YOGYAKARTA


Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.
Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.
Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.
Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.
Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.
Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang. Sesekali mungkin anda akan disapa dengan senyum ramah loper koran yang hendak menuju kantor sirkulasi harian Kedaulatan Rakyat.
Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.
Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo & Artistik: Agung Sulistiono Mabruron
Copyright © 2007 YogYES.COM

PENGINAPAN MURAH - YOGYAKARTA 1

PENGINAPAN MURAH - YOGYAKARTA 1
 40rb-80rb
PENGINAPAN ANGGUN KALIURANG JOGJA
























Penginapan Anggun Kaliurang Jogja terletak di Jln Kaliurang Km 19 Pakem sebagai tempat pengianan yang murah,asri, dan bersih di Wisata Kaliurang Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan tempat tujuan wisata yang sangat populer di Indonesia. Banyak wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri berkunjung ke DIY untuk menikmati dan mengunjungi tempat-tempat wisata, baik wisata peninggalan sejarah, wisata kuliner maupun tempat-tempat kerajinan tangan yang banyak tersebar di seluruh DIY. DIY juga merupakan kota pelajar. Dengan banyaknya pelajar yang datang dari berbagai tempat diluar DIY, banyak orang tua ataupun sanak saudara para pelajar tersebut yang datang berkunjung ke DIY. Khusus wisata sekitar gunung merapi khususnya wilayah wisata Kaliurang yang terletak di Wisata Gunung Merapi Kaliurang.
PENGINAPAN ANGGUN KALIURANG JOGJA
Jln. Kaliurang KM 19 Pekem Sleman DIY
0274 - 895196/ 085868248449 

HOTEL MURAH - YOGYAKARTA

HOTEL MURAH - YOGYAKARTA
 
Hotel Bakti memiliki kamar dengan harga yang terjangkau, dimana setiap kamarnya memiliki ukuran yang luas serta nyaman, dengan fasilitas kamar yang disediakan khusus untuk memanjakan anda dalam bersantai dan beristirahat.
Kamar AC + Air Panas
  • Kamar Mandi
  • Orang (4)
  • Beds (2)
  • Air Conditioner
  • TV
  • Rp. 375.000,-
Kamar AC
  • Kamar Mandi
  • Orang (3)
  • Beds (2)
  • Air Conditioner
  • TV
  • Rp.300.000,-
Kamar Non AC
  • Kamar Mandi
  • Orang (3)
  • Beds (2)
  • TV
  • Rp. 200.000,-
Harga sewaktu-waktu dapat berubah sesuai event dan promosi.

Alamat : Jl. Hayam Wuruk No. 13